Jumat, Oktober 22, 2021
spot_img

Aksi ‘Gila-gilaan’ Rakyat Mesir Mendukung Kemerdekaan Indonesia

spot_img
spot_img

Oleh: Mohammad Iqbal

Portaldata.ID | SETELAH seruan dari Mufti Palestina untuk mendukung Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1943, maka negara berdaulat yang berani terang-terangan mengakui serta mendukung usaha kemerdekaan Republik Indonesia ialah Mesir, tepatnya pada tahun 1947. suatu organisasi massa serta politik Islam terbesar di Afrika Utara, Ikhwanul Muslimin, yang dipimpin oleh Hassan Al Banna, terus-menerus memperlihatkan dukungannya pada kemerdekaan Indonesia.

Selain menggalang opini publik lewat pemberitaan media, organisasi perihal ini juga memberikan kesempatan luas kepada para mahasiswa Indonesia di Mesir, untuk menulis goresan pena wacana kemerdekaan Indonesia di aneka macam koran lokal milik Ikhwanul Muslimin, serta menggelar aneka macam acara tabligh akbar serta demonstrasi besar-besaran untuk menggalang dukungan dari dunia Islam serta internasional bagi bangsa Indonesia.

Para pemuda-pelajar Mesir, dengan aneka macam cara, berulangkali mendemo Kedutaan Belanda di Kairo. tak hanya dengan slogan serta spanduk, juga melalui aksi pembakaran ban, pelemparan batu serta teriakan permusuhan terhadap Belanda, kerap kali dilaksanakan.

Kondisi perihal ini membikin Kedutaan Belanda di Kairo kewalahan. Mereka pun dengan tergesa-gesa mencopoti aneka macam atribut kebangsaan, bahkan bendera negaranya sendiri demi keamanan karena ketakutan melihat aksi rakyat Mesir mendukung Kemerdekaan Indonesia, suatu negara yang jauh sekali letaknya dari Mesir serta tak pernah memberikan apa saja kepada mereka sebelumnya.

Di jalan-jalan, terjadi demo besar-besaran Tiap hari, mendukung Indonesia serta mengecam Belanda. sewaktu Inggris menyerang Surabaya dengan kekuatan satu divisi penuh pada 10 November 1945, yang menyebabkan ratusan ribu korban jiwa di pihak Indonesia, khususnya penduduk sipil, demonstrasi kini juga mendemo Inggris yang telah mendukung Belanda.

Hal perihal ini terjadi di seluruh Timur Tengah, khususnya Mesir. Sholat ghaib pun dilaksanakan di masjid-masjid, bahkan juga di lapangan-lapangan, untuk mendoakan para syuhada‘ yang gugur dalam pertempuran dahsyat tersebutt.

Mesir selaku pimpinan Liga Arab, menyerukan dunia untuk segera mengakui Kemerdekaan bangsa Indonesia, bahkan membikin petisi ke PBB pada tanggal 18 November 1946. Seluruh negara anggota Liga Arab serta dunia Islam pun langsung mengakui serta mendukung secara penuh Kemerdekaan RI. Setelah Palestina serta Mesir, menyusul kemudian ialah Suriah, Iraq, Lebanon, Yaman, Saudi Arabia serta Afghanistan.

Pada tanggal 15 Maret 1947, utusan Mesir selaku perwakilan negara Arab serta dunia Islam, terbang menuju ke ibu kota RI pada dikala itu, Yogyakarta, dengan membawa bantuan dalem bentuk uang tunai, makanan, pakaian serta obat-obatan. Bantuan perihal ini yang yaitu hasil sumbangan terkumpul dari Liga Arab serta dunia Islam.

Utusan Mesir perihal ini ialah Mohammad Abdul Mounim, menyerahkan bantuan tersebutt disaksikan oleh Sultan Yogyakarta Hamengkubuwono IX, kepada Presiden Soekarno serta Wapres M. Hatta. Pesawat mereka sempat bakal dihentikan serta ditembaki Belanda, namun sukses tiba dengan selamat di Maguwo.

Pesawat pemburu Belanda tak berani melanjutkan aksinya karena pesawat yang disewa oleh Abdul Mounim ialah pesawat berbendera Amerika Serikat. Rombongan itu juga membawa nota perjanjian hubungan diplomatik serta perdagangan yang telah ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri Mesir, Mahmud Fahmi Nokhrasyi Pasha. seterusnya teks kesepakatan diplomatik perihal ini ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri RI, H Agus Salim.

Tak hanya Mesir, Saudi Arabia bahkan mengundang perwakilan RI ke Riyadh dengan fasilitas lengkap berupa pesawat kerajaan Saudi berikut segala akomodasinya (pesawat kerajaan Saudi dijamin langsung keamanannya oleh AS serta Inggris, terkait kepentingan eksplorasi minyak bumi di wilayahnya). Utusan RI pada dikala itu, HM Rasjidi dijamu langsung oleh Raja Saudi, Abdul Aziz Ibnu Saud, di istana kerajaan.

Maka dari itu bulan Desember 1949, hanya negara-negara Arab yang mengakui serta mendukung penuh kedaulatan penug bangsa Indonesia. Bukan Eropa, Amerika Serikat atau China.

Aksi “gila-gilaan” yang telah dilaksanakan oleh rakyat Mesir dalam mendukung usaha kemerdekaan Indonesia dikenal selaku “Peristiwa Volendam”. Peristiwa perihal ini terjadi sewaktu Kapal Perang “Volendam” yang membawa tentara Belanda bersenjata lengkap, berlabuh di Port Said, Mesir, hendak berlayar ke Indonesia, setelah terjadi serangan Militer Belanda ke-1, 21 Me 1947.

sewaktu kapal perihal ini memasuki memasuki pelabuhan, mendadak ribuan penduduk serta buruh pelabuhan Mesir, yang dimotori oleh Ikhwanul Muslimin, dengan menggunakan puluhan tag boat yang dipasangi bendera kebangsaan RI, sang Dwi Warna, Merah Putih, memblokade jalan-jalan masuk ke Port Said biar Kapal Volendam serta kapal Belanda lain, termasuk kapal Inggris, tak bisa memasuki pelabuhan serta berlayar menuju ke Suez. Blokade perihal ini bahkan berlaku juga bagi kapal lain yang hendak menyuplai kebutuhan Kapal Volendam.

Akhirnya, dengan suatu kapal boat besar, dijaga oleh 20 orang polisi di bawah pimpinan Blackfield, Konsul Belanda asal Inggris, bersama direktur pengurus kapal Belanda di Port Said. Namun mendadak terjadi perlawanan: ribuan orang Mesir meneriaki serta melempari batu ke arah kapal tersebutt.

Menurut wartawan Koran Al-Balagh tanggal 10 Agustus 1947: “Para buruh pelabuhan mengejar kapal Belanda tersebutt dengan kapal motor sementara ribuan orang di darat, termasuk wanita serta anak-anak meneriaki serta melempari batu ke arah kapal Belanda yang dikawal polisi tersebutt. Anggota kepolisian pelabuhan yang berkebangsaan Mesir, tak mau menembak walau telah diperintahkan oleh orang Inggris komandannya.

Para buruh pelabuhan tersebutt Beberapa bahkan sukses naik ke kapal motor penyuplai, lalu menahan juru mudi serta awak kapalnya, kemudian membelokkan arah kapal, sehingga menjauh dari Volendam.” Peristiwa perihal ini terjadi pada tanggal 10 Agustus 1947.*

pengajar SMP Lukman al – Hakim Surabaya
 


Editor: Insan Kamil

Postingan Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Teknologi

- Advertisment -spot_img

Travel

Sejarah