Jumat, Oktober 22, 2021
spot_img

Fatwa Solo serta Lahirnya Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Batavia 1914

spot_img
spot_img

Oleh: Abdullah Abubakar Batarfie


Portaldata.ID | BAGI
yang pernah merasakan hidup di negeri yang masih berstatus selaku Hindia Belanda lebih dari 100 tahun lalu, tentu bakal mengalami masa pengklasifikasian golongan penduduk yang didasarkan kepada stratifikasi sosial, dimana Tiap orang tak bisa sesukanya untuk Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. suatu peribahasa yang menggambarkan suatu kondisi yang setara, sama atau seimbang.

Ketidak setaraan itu berlaku pada seluruh sendi kehidupan masyarakat, bagus dalam hal nasab (keturunan), pangkat (kedudukan) serta harta (kekayaan). Karena itu pula tak seluruh anak-anak negeri miliki hak untuk mendapatkan fasilitas pendidikan yang sama, Demikian pula dengan status sosial sesorang bakal terlacak dari gelar yang disandang serta pakaian yang dikenakan.

Gelar-gelar yang disandang, bahkan ada yang menggunakan dalih agama, dimana tak sembarang orang menyematkan gelar itu di depan namanya. Meski tak terancam dipidana, pakaian yang dikenakan pun disesuaikan dengan derajat para pemakainya.

ialah Marco Kartodikromo yang pernah membikin novel berbahasa Melayu dikala dirinya mendekam dalam penjara di Batavia pada tahun 1917 – 1918. Novel yang diberinya judul Student Hidjo itu menceritakan perjalanan orang bumiputera bernama Hidjo yang merantau ke negeri Belanda untuk belajar di Institut Teknologi Delft.

Dalam novel itu, Hidjo digambarkan miliki kisah gaya hidup pribumi modern yang berpakaian ala Eropa. Bercelana panjang, jas, berdasi serta dua pena yang tampak terjepit di saku jasnya. Modernitas gaya hidupnya pun mengikuti gaya hidup orang-orang barat pada umumnya, mirip makan di resto, menonton opera, piknik serta naik trem. Yang paling disenanginya ialah, dikala ia dilayani oleh para pelayan Belanda.

Sepintas potret kehidupan hidjo yang ala barat selama berada di negeri Belanda itu biasa-biasa saja, Melainkan bagi penulisnya, Marco Kartodikromo, novel yang ditulisnya mengandung muatan revolusioner selaku bentuk demonstratifnya akibat diskriminasi yang diterima oleh kaum bumiputera pada masa itu, karena pakaian yang mereka kenakan.

selaku orang jurnalis, Marco Kartodikromo yang pernah menjadi anggota Sarekat Islam afdeeling Surakarta, amat muak terhadap segala bentuk rasisme. Semenjak dirinya bekerja selaku wartawan pada Medan Prijaji di Bandung tahun 1911, Marco pun mulai menulis kritik pedas selaku bagian terpenting perlawanannya terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Munculnya polemik serta fatwa-fatwa Syaikh Ahmad Surkati, pendiri Al-Irsyad yang dimuat secara berturut-turut dalam harian Oetoesan-Hindia, sontak telah menjadi perhatiannya. Betapa tak, isu rasisme yang timbul serta tabu untuk dibicarakan karena dikemas dengan dalih agama, menjadi “tabir” yang kemudian ramai dibicarakan orang.

semenjak itu Marco Kartodikromo berhubungan erat dengan Surkati untuk berdiskusi, dikemudian hari pada waktu banyak para pejuang kemerdekaan menjadi “Orang Boeangan” ke Tanah Merah di Boven Digoel, Syaikh Ahmad Surkati mengumpulkan donasi dari banyak warga Al-Irsyad untuk menyantuni keluarga mereka. Data-data keluarga itu diperolehnya dari Mas Marco Kartodikromo, yang juga ikut ditahan sebagi “digulis” serta wafat di tanah pembuangan pada tahun 1932.

selaku jawaban atas pertanyaan serta permintaan HOS Tjokroaminoto, pemimpin surat kabar Oetoesan-Hindia, fatwa-fatwa Syaikh Ahmad Surkati itupun dihimpunnya menjadi suatu Risalah Surat al-Jawab yang diterbitkan tahun 1915. Sehubungan dengan kian meluasnya pembicaraan perihal kafa’ah tersebutt.

Fatwa Syaikh Ahmad Surkati perihal kafa’ah itu timbul, karena dilatar belakangi oleh keadaan sekelompok masyarakat di Indonesia yang dijumpainya pada abad ke-20. Dimana ada dalam golongan masyarakat yang merasa miliki kelebihan selaku keturunan paling mulia serta menganggap rendah kepada yang bukan dari golongannya. Mereka mempertahankan hak-hak istimewa yang dinikmatinya itu selama berabad-abad secara turun menurun.

Di antara hak-hak istimewa itu antaranya ialah perihal hukum kafa’ah, yaitu mengatur pernikahan yang melarang orang laki-laki untuk menikahi orang perempuan yang bukan dari golongannya.

Peristiwa yang terjadi di kota Solo itu, kelak dikenal orang selaku “Fatwa Solo”, karena terlontar dikala lawatannya di kota itu selaku penilik pada lembaga Jamiatul Khair yang mengundangnya datang ke Hindia Belanda bulan oktober 1911. Melainkan akibat dari lahirnya “Fatwa Solo” selaku penyebab perbedaan interpretasi hukum Islam perihal kafa’ah tersebutt, kerenggangan pun tak bisa dihindarinya antara Syaikh Ahmad Surkati selaku ikon reformis Islam, dengan para pemimpin Jamiatul Khair yang konservatif.

semenjak peristiwa itu, Syaikh Ahmad Surkati hanya bisa bertahan selama tiga tahun saja di Jamiat Khair. Pada 1914 ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari lembaga yang mengundangnya “sonder mendapatkan pesangon”, diikuti oleh pengajar-pengajar lainnya yang berhaluan Islam reformis.

Atas dorongan para pendukungnya, beliau akhirnya memutuskan untuk membuka sekolah sendiri serta dinamainya Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah. Salah satu dari muridnya di Jamiatul Khair yang kemudian ikut pindah di sekolah barunya itu ialah Abdullah Salim Al-Attas, ayahanda mantan Menlu RI Ali Attas pada era presiden Suharto.

Lokasi sekolah baru tersebutt berada di jalan “Djati Baroe” Jakarta, atau yang pada masa Hindia Belanda masih bernama Batavia. Hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari bekas kediaman Sayyid Alwi bin Abdullah Al-Attas yang kini menjadi Museum Tektstil, orang pengusaha tajir di Batavia yang dijuluki selaku Saudagar Baghdad dari Betawi. Bersama saudagar lainnya, dari koceknya uang ribuan gulden ia berikan kepada Al-Irsyad dikala untuk pertama kalinya Al-Irsyad didirikan.

Tanah serta bangunan sekolah, sekaligus kediaman resmi Syaikh Ahmad Surkati, dipersiapkan secara cuma-cuma oleh Syaikh Umar bin Yusuf Manggusy, Kapten Arab dimasa itu. Tokoh perihal ini boleh dibilang orang nomor wahid yang paling berjasa di dalam melahirkan Al-Irsyad Al-Islamiyyah.

Syaikh Umar bin Yusuf Manggusy, juga terkenal selaku orang kaya raya yang ikut menghibahkan tanah miliknya seluas 28.650 meter persegi untuk pendirian KPM Ziekenhuis di Djati Baroe, kini menjadi RS Pelni No.92-94 Jalan Aipda KS Tubun, Petamburan Jakarta Pusat.

Syaikh Ahmad Surkati Pendiri Al-Irsyad

6 September 2021, Al-Irsyad Al-Islamiyyah genap bakal memasuki usianya yang ke 107 tahun, Sekiranya merujuk pada penanggalan Miladiyah yang dihitung dari semenjak dibukanya dengan resmi madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah pada 6 September 1914.

Dalam waktu yang bersamaan, dibentuk organisasi kemasyarakatan Islam selaku penopang untuk mengusung ide dalam menyebarkan faham-faham pembaharuan Islam yang dibawanya Jam’iyyah al-Ishlah wal Irsyad al-Islamiyyah serta baru mendapatkan pengakuan resminya dari Pemerintah Kolonial Belanda pada 11 Agustus 1915.

dikala mendirikan Al-Irsyad, ide serta pemikiran Syaikh Ahmad Surkati perihal konsep al-musawa, menjadi jargon perjuangannya. Selain gerakan dakwah untuk pemurnian ajaran Islam yang telah disepakatinya bersama ulama-ulama tajdid lainnya untuk pemberantasan TBC (takhayul, bid’ah serta churafat).

Syeikh Syaikh Surkati di antara para sahabatnya

kafa’ah yang dipersandingkan dengan al-musawah, yaitu pemikiran Syaikh Ahmad Surkati dalam kerangka tajdid di bidang keagamaan (syariat Islam) terhadap diskriminasi dalam masyarakat Hadrami pada masa Hindia Belanda. Jauh dari itu, konsep al-musawa yang bermakna keseteraan derajat, menandakan betapa pentingnya kemerdekaan individu untuk membangun jiwa-jiwa yang merdeka, mengubah cara pandang, pikiran, sikap, serta perilaku selaku dasar kemajuan serta hakekat kemerdekaan suatu bangsa.

Prinsip al-musawa itu tercermin dari al-Ummahatul Akhlaq, judul syair yang dibuat oleh Syaikh Ahmad Surkati semasa masih mengajar di Jamiatul Khair, syair yang dijadikannya selaku hafalan wajib bagi murid-muridnya; “Tidaklah kebanggaan itu karena pakaian atau keturunan, serta bukan pula karena tumpukan uang atau emas, tetapi kemuliaan itu karena ilmu serta adab. serta Agama ialah pelita bagi orang yang berakal”

Bung Karno, bapak proklamator serta presiden pertama Indonesia menjulukinya Abaa Ruh al-Jalil kepada Syaikh Ahmad Surkati, tokoh yang sempat serta kerap kali ditemuinya semenjak kembalinya dari tempat pembuangannya di Endeh serta Bengkulu.

Sebutan untuk Syaikh Ahmad Surkati itu mengandung makna selaku orang bapak yang telah memberikan ruh kemuliaan dalam dirinya bersama sahanat-sahanat seperjuangannya, yang telah memberinya kesadaran bakal hakikat Islam yang sebenarnya, sehingga menjadi spirit dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Ungkapan serta perasaan Bung Karno tersebutt selaku akibat rasa penyesalannya, karena bertemu dengan sosok yang dikaguminya itu disaat kedua matanya tak lagi bisa melihat (buta). “Alhamdulillah, karena disaat penglihatan aku (Syaikh Ahmad Surkati) telah tiada, Melainkan pandangan kalian kini telah terbuka, sehingga bisa mengetahui bakal hakikat Islam”.

Gagasan Syaikh Ahmad Surkati melalui lembaga pendidikan yang diirintisnya, dengan konsep madaris selaku idenya, yaitu sekolah-sekolah yang berjenjang, berkurikulum serta berseragam menjadi suatu terobosan dahsyat yang meraih sukses besar. Perlahan namun pasti, umat Islam mendapatkan pendidikan yang pantas, menyamai pendidikan ala barat yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda yang diperuntukan bagi kalangan elit spesifik, kaum ningrat serta priyayi.

Prinsip al-musawa atau kesetaraan yang dimaksudkan lainnya ialah menyamakan hak serta kewajiban antara laki-laki serta perempuan di hadapan Allah SWT, untuk mendapatkan hak pendidikan, berjuang serta berketerampilan, karenanya 16 tahun setelah Al-Irsyad berdiri, organ Wanita Al-Irsyad yang embrionya dilahirkan di kota Pekalongan dengan nama Nahdlatul Moe’minat, terbentuk untuk pertama kalinya pada tahun 1930. Nahdlatul itu sendiri mengandung makna yang berarti kebangkitan.

Kiprah Al-Irsyad dalam Dunia Pendidikan serta Sosial

Kini, Al-Irsyad Al-Islamiyyah tengah berpacu untuk maju guna mengejar ketertinggalannya dengan meningkatkan mutu pendidikan yang keberadaan sekolah-sekolahnya kini telah tersebar dihampir seluruh wilayah Indonesia. Mulai dari tingkat TK Maka SMU/SMA. Al-Irsyad pun telah miliki Pondok Pesantren, Boarding School serta sekolah setingkat Perguruan Tinggi.

Pada bidang sosial, Al-Irsyad Al-Islamiyyah pun kini telah berkiprah secara terlembaga dalam aksi-aksi kemanusiaan serta tanggap bencana, bagus untuk di dalam maupun di luar negeri. Beberapa rumah sakit serta klinik telah didirikan di beberapa tempat yang keberadaannya telah bisa dirasakan langsung bakal manfaatnya oleh masyarakat. Salah satunya ialah RS Al-Irsyad Al-Islamiyyah di kota Surabaya.

Dengan keterbatasan serta banyak sekali kekurangan yang dimiliki, Al-Irsyad Al-Islamiyyah bakal terus mengedepankan amal nyata untuk tetap bergerak, melaksanakan terobosan serta inovasi bagi kemajuan bangsa serta negara, selain bagi kejayaan dakwah Islam.

Gerak serta langkah nyata Al-Irsyad Al-Islamiyyah diinspirasi oleh motto yang terkandung dalam Al-Qur’an; “kau ialah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk insan, menyuruh kepada yang ma’ruf serta mencegah dari yang munkar serta beriman kepada Allah. (Ali Imran: 110), yang secara istiqomah telah dipraktekan Al-Irsyad Al-Islamiyyah semenjak awal didirikan Maka dikala kini.

Dalam menyongsong Miladnya yang ke 107 tahun perihal ini, Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah telah mengangkat “Meneguhkan Tekad serta Semangat Berkarya untuk Indonesia”, selaku ikhtiar dalam memajukan bangsa, seiring sekata dengan slogan Dirgahayu RI ke 76, “Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh”.

Akhirnya, selamat Milad Al-Irsyad Al-Islamiyyah ke 107 dengan gerak dakwah Islam yang moderat, berkarya untuk Indonesia, untuk dunia kemanusiaan serta kelangsungan kehidupan umat insan bersama Islam yang rahmatan lil alamin.*

Ketua Pusat Dokumentasi serta Kajian Al-Irsyad Bogor


Editor: –

Postingan Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Teknologi

- Advertisment -spot_img

Travel

Sejarah