Jumat, Oktober 22, 2021
spot_img

Kisah Memuliakan Tamu Ala Tuan A.Hassan

spot_img
spot_img

Portaldata.ID | “DUA hal yang amat menonjol dalam pribadi A.Hassan: Korek (tepat guna, pen.) dalam mempergunakan waktu serta penerima tamu yang bagus sekali, ” demikian kenang H.D.P  Sati Alimin, murid Tuan A.Hassan, memberi kesaksian, sebagaimana dikutip dari Majalah Al-Muslimun, April 1980.

H.D.P Sati Alimin ialah sosok di balik penyusunan buku Capita Selecta karya Mohammad Natsir. Ia mengumpulkan goresan pena-goresan pena Natsir yang terserak di banyak sekali majalah, kemudian menyusunnya menjadi suatu buku yang menjadi salah satu masterpiece Mohammad Natsir.

Pada tahun 1930, usia Alimin baru 21 tahun. Ia bekerja selaku pegawai negeri di Minangkabau, Sumatera Barat. Perkenalannya dengan Tuan Hassan pertama kali lewat Majalah Pembela Islam; media massa yang dikelola oleh A.Hassan serta Mohammad Natsir. Di majalah perihal ini, goresan pena-goresan pena A.Hassan memikat hati serta menggugah semangatnya.  Ia yang tadinya pengagum Soekarno serta tak suka dengan goresan pena-goresan pena A Hassan karena mengeritik pujaannya, berubah setelah membaca hujjah-hujjah A.Hassan yang  mengoreksi secara tegas pikiran-pikiran presiden pertama RI itu.

Setelah itu mulailah terjadi korespondensi antara A.Hassan serta Alimin. Meski tak pernah bertatap muka serta hanya berkenalan lewat surat menyurat, namun di waktu Alimin Sati berkunjung ke rumah A.Hassan di Bandung, ulama itu menyambutnya mirip bertemu dengan kawan dekat yang telah lama tak berjumpa. Padahal usia Alimin di waktu itu terpaut amat jauh dari Tuan Hassan.

Sekira sepuluh menit berbincang serta bertanya kabar, A. Hassan mengatakan kepada Alimin selaku tamu barunya, “tuan istirahat dahulu, itu divan  untuk tuan, itu handuk, itu bakiak. aku teruskan kerja aku sedikit lagi, nanti sore kita boleh ngomong-ngomong serta jalan-jalan,” ujarnya.

Betapa simpatiknya pribadi Tuan Hassan. Tamu yang baru pertama berjumpa, diperlakukannya mirip sahabat lama. Tempat tidur serta peralatan mandi telah disiapkan. “Kopor serta turunan aku aku dapati telah terletak di bawah divan yang bakal aku tempati, ” kenang Alimin Sati.

“Kesan pertama yang aku bisa, betapa koreknya Tuan Hassan perihal ini mempergunakan waktu, serta alangkah begitu pantasnya ia kepada tamu,” kata Alimin, yang awalnya hanya sekadar pengin bertemu sekitar satu jam, lalu mencari penginapan.

Setelah beristirahat, Tuan A.Hassan menunaikan janjinya mengajak Alimin untuk berjalan-jalan serta bersilaturrahmi dengan sahanat-temannya yang yakni tokoh-tokoh Persatuan lslam. Ia diajak bertemu serta berkenalan dengan H Zamzam, Sabirin, Natsir, Fachruddin Al-Qahiri, Qamaruddin Saleh, H.Mahmud Aziz, serta lain-lain.

Betapa senangnya Alimin dengan perlakuan Tuan Hassan, hingga-hingga pada suatu hari ia pengin berhenti jadi pegawai negeri serta tinggal bersama dengan Tuan Hassan untuk belajar serta berkhidmat pada agama. Keinginannya itu ia sampaikan melalui surat kepada Tuan Hassan.

Namun keinginan itu ditolak, karena A Hassan merasa tak bisa memberikan penghidupan yang pantas bagi Alimin yang di waktu itu  telah mendapatkan gaji cukup lumayan serta telah berkeluarga. “Sayang kami belum bisa  mendapatkan Tuan, karena kehidupan tuan selaku pegawai negeri telah lumayan,” kata A.Hassan. “Bila tuan tak ada isteri serta anak, silakan tuan datang ke Bandung, mari kita hidup bersama seada-adanya!” tambah Tuan Hassan.

Beberapa tahun kemudian, pada akhir tahun 1940-an, H.D.P Sati Alimin kembali bertamu ke rumah A.Hassan. Tetapi kali perihal ini tak di Bandung, melainkan di Bangil, suatu kota kecil di Jawa Timur.  semenjak tahun 1940, A Hassan pindah ke Bangil serta mendirikan Pesantren Persatuan Islam (Persis) di kota perihal ini.

Perlakuan A.Hassan kepada tamu, mirip kata Alimin Sati, tak jauh berbeda pada di waktu tahun 1930-an di waktu ia bertamu di rumahnya di Bandung, Jawa Barat. Setelah berbincang selama kurang lebih 10-15 menit, A Hassan kemudian pamit pada tamunya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sementara itu, tempat tidur untuk istirahat serta peralatan mandi telah tersedia.

di waktu pamit untuk pulang, A.Hassan serta sahabatnya, KH Muhammad Ali Al-Hamidy mengantarnya ke Stasiun Bangil. Sepanjang jalan, Alimin menyaksikan hampir Tiap-tiap orang yang berjumpa dengan Tuan Hassan, dengan senang serta tersenyum menyalaminya. “Kok Banyak benar sahanat tuan?” Tanya Alimin.

Lalu A.Hassan menjawab, diantara orang-orang yang menyalaminya, banyak di antaranya ialah orang keturunan Arab, yang pada masa itu sering disebut “kaum Sayyid”, yang sering merasa lebih tinggi derajatnya dengan kaum lain. “Yang kita bersalaman tadi itu,  ialah bangsa Sayyid yang dahulu kita inflasikan,” kata A.Hassan. Diinflasikan maksudnya dikritik secara tajam, sehingga masyarakat paham bahwa derajat mereka dengan lainnya sama, yang membedakan ialah ketakwaannya.

Melihat hal itu, Alimin heran. “Namun mengapa mereka begitu bagus kepada tuan?” Tanyanya. A.Hassan menjawab,  “aku kan tak memukul pribadi, serta dalam pergaulan aku tetap bagus dengan mereka. Kalau aku hajat, mereka aku undang, serta bila mereka mengundang, aku datang.”

Perbincangan berakhir di stasiun. di waktu pengin membeli tiket kereta, Alimin terkejut, “perihal ini karcis untuk tuan, telah disediakan…” Ujar A.Hassan sambil memberikan karcis kereta kepadanya.  Betapa hebatnya perlakuan Tuan Hassan kepada tamunya. Inilah yang begitu berkesan bagi Alimin sepanjang hidupnya.

Kesan yang sama terhadap kebaikan A.Hassan dalam mendapatkan tamu juga dirasakan oleh H. Zainal Abidin Ahmad, orang ulama asal Minangkabau yang juga penulis hebat. “aku tak pernah menyangka sedikit juga, Tuan Hassan perihal ini orang penerima tamu yang begitu bagus serta begitu ramah…”kenang Z.A Ahmad. Ia tak menyangka, karena banyak orang menduga, kritik-kritik A Hassan yang begitu keras serta tajam, itu menggambarkan sosok serta kepribadiannya. Ternyata tak.

A.Hassan, sebagaimana digambarkan oleh H.Tamar Djaja dalam buku “Riwayat Hidup A Hassan,” ialah: Singa dalam perdebatan, serta domba dalam pergaulan.”

Kepribadian inilah yang seharusnya ditiru oleh anak cucu biologis serta ideologis dari Ustadz A.Hassan. Tegas dalam pendirian, santun serta ramah dalam pergaulan. Rahimahullah rahmatan waasi’ah. Semoga Allah SWT memberikan rahmat yang luas  kepada Al-ustadz  Hassan bin Ahmad alias A.Hassan. Aamiin.*/Arthawijaya, wartawan serta penulis buku


Editor: Muhammad

Postingan Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Teknologi

- Advertisment -spot_img

Travel

Sejarah