Jumat, Oktober 22, 2021
spot_img

Mengenal Wolotopo, Desa Adat di Flores

spot_img
spot_img

Portaldata – Wolotopo adalah sebuah desa adat yang terletak di Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Dari pusat kota Ende berjarak 12 km dan memakan waktu kurang lebih 30 menit.

Selama perjalanan, traveler akan melihat Pantai Nanganesa dengan panoramanya yang indah dan juga pegunungan megah yang selalu memanjakan mata dalam perjalanan ini.

Sesampainya di lokasi, traveler akan disambut oleh anak-anak kecil dan beberapa warga lainnya dengan senyum manis dan keramahannya. Wolotopo adalah salah satu desa megalitik yang tersisa di Ende. Disebut megalit karena desa ini dibangun dari batu-batu besar dan berada di atas bukit.

Di sini traveler akan melihat rumah-rumah adat yang dibangun atau ditata dari bebatuan yang berdiri kokoh hingga sekarang. Masyarakat adat Wolotopo sangat serius dengan seni dan kerajinan lainnya.

Selain itu, ada juga rumah seperti rumah panggung. Rumah panggung berukuran pendek dan ditopang oleh kayu atau batu berbentuk lonjong. Atap rumah panggung ada yang sudah menggunakan seng, ada juga yang masih menggunakan ilalang. Di halaman, ada tumpukan batu atau menhir yang tampak mengelilinginya.

Beberapa rumah adat di sini mampu bertahan hingga 7 generasi. Meski sudah termakan zaman dan berubah seiring berjalannya waktu, rumah adat tersebut masih berdiri kokoh hingga sekarang.

Menurut masyarakat adat Wolotopo, dahulu di sini terdapat 4 rumah adat besar atau dalam bahasa adatnya Ikal Sao Ria. Di antara 4 rumah tersebut adalah Sao Ata Laki, Sao Tarobo, Sao Taringgi, dan Sao Sue. Namun, kini hanya tersisa 2, yaitu Sao Sue dan Sao Ata Laki.

Rumah adat Walotopo bisa disebut sebagai Sao Ria Tenda Bewa.

Rumah bisa ditempati 6 keluarga. Sangat besar dan luas, di dalamnya ada sekitar 6 dapur serta kompor, serta benda-benda tradisional lainnya. Selain itu, di Wolotopo juga terdapat megalitik atau makam batu. Makam tersebut merupakan tempat peristirahatan terakhir para leluhur masyarakat adat Wolotopo.

Menurut tetua adat, jika seorang musafir tersandung saat keluar atau memasuki rumah di pintu masuk, berarti ada teguran dari leluhur. Dan biasanya, ketika itu terjadi, akan diadakan upacara-upacara kecil sebagai bentuk permintaan maaf kepada leluhur. Disini traveler akan menikmati semilir angin dan melihat panorama yang indah yaitu kemegahan pegunungan dan pantai dengan air yang memanjakan mata.

Keramahan dan kehangatan yang diberikan oleh masyarakat adat Desa Wolotopo akan membuat para pelancong merindukan tempat ini dan membuat mereka tidak ingin meninggalkan Wolotopo.

Postingan Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Teknologi

- Advertisment -spot_img

Travel

Sejarah