Jumat, Oktober 22, 2021
spot_img

Rumah Adat Dulohupa di Gorontalo

spot_img
spot_img

Portaldata – Gorontalo memiliki empat rumah adat yang menjadi ciri khas provinsi Gorontalo, yaitu rumah adat Dulohupa di kota Gorontalo, rumah adat Bandayo Poboide di Limboto, rumah adat Ma’lihe atau Potiwaluya dan yang terakhir adalah rumah adat Gobel di Bone. Bolango.

Rumah Adat Dulohupa terletak di Desa Limba, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo.

Dulohupa disebut juga Yiladia Dulohupa Lo Ulipu Hulondhalo oleh warga Gorontalo. Rumah adat ini berbentuk rumah panggung yang tubuhnya terbuat dari papan dan struktur atapnya bernuansa daerah Gorontalo.

Selain itu, rumah adat Dulohupa juga dilengkapi dengan tiang-tiang kayu sebagai hiasan dan simbol rumah adat Gorontalo serta memiliki dua anak tangga di kiri dan kanan rumah adat yang merupakan simbol dari tangga adat atau disebut Tolitihu.

Rumah adat Dulohupa dibangun dalam bentuk rumah panggung. Hal ini dilakukan sebagai penggambaran tubuh manusia, yaitu atap menggambarkan kepala, tubuh rumah menggambarkan tubuh, dan tiang penyangga rumah mewakili kaki. Selain itu, bentuk rumah panggung juga dipilih untuk menghindari terjadinya banjir yang saat itu sering terjadi.

Rumah adat Dulohupa di Gorontalo dibangun dengan prinsip dan keyakinan. Atap rumah adat Dulohupa terbuat dari jerami terbaik dan berbentuk pelana, yaitu atap segitiga bersusun dua yang menggambarkan syariat dan adat istiadat masyarakat Gorontalo. Atap atas menggambarkan kepercayaan masyarakat Gorontalo kepada Tuhan Yang Maha Esa dan agama adalah kepentingan utama di atas yang lain. Sedangkan atap bagian bawah menggambarkan kepercayaan masyarakat Gorontalo terhadap adat dan budaya. Di bagian atas atap, dulu ada dua batang kayu yang dipasang melintang di bagian atas atap atau disebut Talapua.

Masyarakat Gorontalo percaya bahwa Talapua dapat mengusir roh-roh jahat, namun seiring dengan perkembangan kepercayaan Islam, kini Talapua tidak lagi dipasang.

Di dinding depan, ada Tange lo bu’ulu yang tergantung di sebelah pintu masuk rumah adat Dulohupa. Tange lo bu’ulu menggambarkan kesejahteraan masyarakat Gorontalo. Sedangkan bagian dalam rumah adat Dulohupa bergaya terbuka karena tidak banyak sekat. Selain itu, di dalam rumah adat terdapat pendopo yang diperuntukkan sebagai tempat peristirahatan raja dan keluarga kerajaan.

Dulohupa memiliki banyak tiang kayu. Selain sebagai penyangga karena bentuknya yang berupa rumah panggung, tiang-tiang tersebut juga memiliki arti tersendiri.

Di Rumah Dulohupa terdapat beberapa jenis tiang yaitu, tiang utama atau wolihi berjumlah 2 buah, tiang depan berjumlah 6 buah, dan tiang alas atau potu berjumlah 32 buah.

Tiang utama atau wolihi dilekatkan ke tanah langsung ke rangka atap. Pilar ini merupakan simbol dari ikrar persatuan dan kesatuan abadi antara dua bersaudara. 14 Gorontalo-Limboto (janji lou dulowo mohutato-Hulontalo-Limutu) tahun 1664. Selain itu, angka 2 menjelaskan delito (pola) adat dan syariah sebagai asas kehidupan masyarakat Gorontalo dalam pemerintahan dan kehidupan sehari-hari .

Seperti tiang utama, tiang depan juga menempel ke tanah langsung ke rangka atap.

Pilar ini menggambarkan 6 ciri atau ciri utama masyarakat Lou Dulowo Limo Lopahalaa, yaitu sifat tinepo atau toleransi, sifat tombulao atau hormat, sifat tombulu atau pengabdian kepada penguasa, sifat wuudu atau menurut keadilan. , sifat adat atau ketaatan pada aturan, sifat butoo atau ketaatan pada hukum.

Sedangkan jumlah tiang dasar atau potu menggambarkan 32 arah mata angin. Pada masanya pilar ini dikhususkan untuk raja dan bangsawan. Bentuk tiang di bagian depan/teras berbentuk bujur sangkar pada angka 4, 6, atau 8.

Ini menggambarkan jumlah budak yang dimiliki raja. Namun seiring berjalannya waktu jumlah tiang tersebut tetap digunakan meskipun bukan di rumah bangsawan dan tidak lagi menggambarkan suatu arti tertentu.

Selain tiang penyangga, jumlah anak tangga pada rumah adat Dulohupa juga memiliki arti tersendiri. Jumlah langkah terdiri dari 5-7 langkah. Angka 5 menggambarkan rukun Islam dan 5 falsafah hidup bagi masyarakat Gorontalo, yaitu Bangusa talalo atau melindungi keturunan, Lipu poduluwalo atau mengabadikan diri membela negara, dan Batanga pomaya, Upango potombulu, Nyawa podungalo yang berarti mempertaruhkan nyawa untuk menyumbangkan dan mengorbankan harta benda.

Sedangkan angka 7 menggambarkan 7 tingkatan nafsu pada manusia, yaitu amarah, lauwamah, mulhimah, muthmainnah, rathiah, mardhiah, dan kamilan.

Dulohupa adalah bahasa daerah Gorontalo yang berarti mufakat atau kesepakatan.

Pada masa lalu, rumah adat ini digunakan sebagai tempat pertemuan keluarga kerajaan dan sebagai ruang sidang kerajaan bagi pengkhianat negara melalui tiga tahap pengadilan pemerintah, yaitu Buwatulo Bala (tahap keamanan), Buwatulo Syara (tahap hukum Islam) , dan Bawatulo Adati (tahapan hukum adat) dan merencanakan kegiatan pembangunan daerah serta penyelesaian permasalahan warga setempat.

Namun, saat ini rumah adat Dulohupa digunakan untuk pertunjukan upacara adat, seperti upacara pernikahan adat dan pertunjukan budaya dan seni di Gorontalo. Di rumah adat ini terdapat perlengkapan untuk upacara pernikahan, pelaminan, dan benda berharga lainnya.

Di rumah adat Dulohupa, masyarakat adat Gorontalo menikah dalam bentuk pelaminan, pakaian adat pengantin, dan perhiasan lainnya. Kini rumah adat Doluhapa dimanfaatkan oleh masyarakat Gorontalo untuk difungsikan sebagai tempat melaksanakan upacara pernikahan dan upacara adat lainnya.

Postingan Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Teknologi

- Advertisment -spot_img

Travel

Sejarah