Jumat, Oktober 22, 2021
spot_img

Sejarah Tradisi Uang Panai di Suku Bugis Makassar

spot_img
spot_img

Portaldata – Suku Bugis Makassar memiliki keunikan budaya yang masih eksis hingga saat ini, salah satunya adalah panai. Tradisi ini dilakukan ketika hendak melaksanakan proses pernikahan.

Uang panai memiliki golongan menurut strata gadis, mulai dari keturunan bangsawan, pekerjaan, kecantikan hingga pendidikan.

Misalnya, jika gadis yang Anda lamar memiliki pendidikan sarjana, harga panai akan lebih mahal daripada lulusan sekolah menengah. Sementara itu, perempuan yang lulus dengan gelar master akan jauh lebih mahal daripada mereka yang lulus dengan gelar sarjana.

Sejarah Panai masih kabur.

Uang panai, konon diciptakan untuk melindungi perempuan Bugis dari Belanda yang suka menikahi perempuan Bugis dengan mudah, pada masa penjajahan. Panai mengangkat harkat dan martabat perempuan Bugis-Makassar.

Uang panai bukan lagi semata-mata untuk perlindungan orang tua kepada anaknya dari laki-laki yang datang melamarnya, tetapi lebih merupakan persaingan gengsi antara tetangga dan lingkungan keluarga.

Misalnya, jika orang tua si wanita memutuskan gaji anaknya sekitar Rp 20 juta, maka keluarga dekat mempelai wanita bisa ikut menaikkan angkanya menjadi ratusan juta.

Pertama, perempuan Bugis-Makassar disimbolkan sebagai sesuatu yang berharga dan sulit dimiliki. Meskipun hal ini diperdebatkan oleh kalangan agama, butuh waktu lama untuk menyimpulkan.

Kedua, laki-laki bisa menjadi lebih siap mental jika gejolak materi menimpa rumah tangga mereka.

Dengan catatan, pria yang bersangkutan berusaha mencari dana sendiri untuk memenuhi permintaan calon mertuanya.

Uang panai juga dianggap berkaitan erat dengan martabat atau harga diri keluarga. Di Bugis atau Makassar, ini dikenal sebagai siri’. Semakin besar nilai panai maka semakin baik citra keluarga di mata masyarakat.

Terlepas dari banyaknya Panai, tradisi ini sebenarnya ingin menyampaikan bahwa wanita adalah orang yang pantas dihormati dan menunjukkan bahwa memang itulah perjuangan untuk mendapatkan wanita yang dicintai.

Ada juga yang rela melepaskan gadisnya karena tidak mampu memberikan Panai yang diminta.

Namun, terlepas dari tradisi panai yang berkembang, tentunya hal ini bisa dibicarakan baik-baik antara keluarga perempuan dan laki-laki yang serius melamar.

Mereka yang bukan dari suku ini, memiliki pendapat yang berbeda tentang tradisi tersebut. Dalam pandangan masyarakat luas, tradisi uang panai ini justru membebani pihak pengantin pria.

Menurut mereka, ini bukan tanpa alasan.

Postingan Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Teknologi

- Advertisment -spot_img

Travel

Sejarah