Jumat, Oktober 22, 2021
spot_img

Syekh Surkati, Al-Irsyad dalam usaha Kemerdekaan Indonesia

spot_img
spot_img

Portaldata.ID | UNTUK mengungkap sejauh mana keterlibatan Al-Irsyad dalam medan usaha kemerdekaan Indonesia, penulis awali dari sang pendirinya secara dahulu, yaitu: Syekh Ahmad Soorkati (1909-1941), kemudian baru lembaganya kemudian nanti disusul dengan murid-murid beliau.

Sebelum secara jauh membahas tema perihal ini, aku nukilkan secara dahulu, kata-kata mengharukan yang pernah disampaikan langsung oleh Syekh Ahmad Surkati kepada Prof. Dr. Rasjidi, “Aku (Syekh Surkati), merasa telah bertahun-tahun berkecimpung memimpin Al-Irsyad di Indonesia. Bahwa tiap-tiap dzarrah (atom) dari badan aku telah berganti dengan unsur-unsur Indonesia. Aku bakal tetap hidup di Indonesia hingga akhir hayatku.” (Hussein Badjerei, Al-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa, 1996 :64).

Bagi siapa saja yang meresapi kata-kata beliau dengan penuh ketulusan serta tanpa buruk sangka, maka bakal dirasakan betapa cintanya beliau pada Indonesia. perihal ini sekaligus menunjukkan bahwa cinta tanah air, kebangsaan atau nasionalisme beliau tak perlu diragukan lagi.

Kalau pun ada pihak yang mencoba meragukan bahkan mementahkannya, maka meminjam arti Babe Ridwan Saidi dalam “Islam serta Nasionalisme Indonesia” (1995: 25), maka tak mengerti konteksnya. lantaran kebangsaan yang ditentang oleh Syekh Surkati, demikian pula A. Hassan ialah kebangsaan, nasionalisme yang berdasar Attaturkisme.

Pada Mu’tamar Islam pertama yang diadakan Syarekat Islam di Cirebon 1922, di tengah-tengah muktamar, berlangsung perdebatan menarik antara Syekh Surkati yang selaku juru bahasa Sarekat Islam, berhadapan dengan Semaun yang sekali-sekali itu mewakili Sarekat Islam Merah yang berhaluan komunis.

Waktu itu, tema debatnya ialah “Dengan apa Indonesia perihal ini bisa merdeka, dengan Islamismekah ataukah dengan Komunisme?” Perhatikan! Tema yang dibahas telah mengenai kemerdekaan. suatu tema amat hangat sekali-sekali itu bagi para pejuang bagus yang beragama Islam mapun yang lainnya.

Debat perihal ini berlangsung dua jam, serta tak ada titik temu, karena memang antara paham Islam serta komunis terperinci bertentangan. Namun, Syekh Surkati meunjukkan kebesaran jiwanya selaku pemimpin dengan komentar positif terkait Semaun. Katanya kepada Abdullah Badjerei, “aku suka sekali kepada orang perihal ini, karena keyakinannya yang kokoh serta jujur bahwa hanya dengan komunismelah tanah airnya bisa dimerdekakan!” Peristiwa perihal ini menunjukkan bahwa sepuluh tahun setelah beliau di Indonesia (1911), telah membincangkan isu-isu terkait kemerdekaan.

Kepedulian kepada kemerdekaan, serta menolong orang yang sedang berjuang mewujudkannya, ternyata bukan sekadar tataran wacana diskusi. pada waktu para pejuang diasingkan ke Digul, Syekh Surkati, sebagaimana penuturan Abdullah Badjerei, memperhatikan kebutuhan istri yang ditinggal mereka.

Untuk meralisasikan misi luhur perihal ini,  beliau menyuruh Abdullah badjeri memberi sekarung beras  melalui pintu belakang mengetuk rumah masing-masing. Menariknya, beliau berpesan biar jangan hingga tahu kalau bantuan itu dari Syekh Surkati. suatu gambaran luar biasa dari orang ulama yang tak mau diketahui amal kebaikannya.

Dalam usaha menolong mereka yang kesusahan ditinggal suaminya lantaran dibuang ke Digul, Syekh Surkati menghadapi ujian juga. Beliau hingga difitnah. Hal yang telah biasa dialami oleh para pejuang. Untuk merealisasikan tujuan perihal ini Syekh Surkati sangatlah serius. Beliau mengumpulkan data wacana para pejuang bangsa yang dibuang ke Digul melalui para murid serta sahabatnya.

Di antara yang memberi data kepada beliau ialah Mas Marco Kartodikromo. orang tokoh Sarekat Islam yang masyhur dengan pernyataannya, “orang Nasionalis baru bisa dianggap tulen kalau ia telah memperoleh sertifikat dari sipir bui!” perihal ini menunjukkan fakta penting betapa eratnya hubungan Syekh Surkati dengan tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan sekali-sekali itu.

Lebih dari itu, kisah tersebutt menggambarkan betapa usaha Syekh Surkati pada waktu di Indonesia, segmennya bukan saja dakwah serta mengajar, Melainkan turut aktif dalam mendukung asa luhur kemerdekaan bagus melalui diskusi atau dengan aksi nyata. tak berlebihan Bila Soekarno menyebut Syekh Sorkati selaku pelopor gerakan pembaharuan Indonesia yang mempercepat lahirnya gerakan kemerdekaan bangsa Indonsia. Soekarno sendiri dikenalkan dengan Syekh Surkati melalui surat-surat dari Endeh. Di antaranya, Soekarna meminta dikirimi buku wacana Sayid (Surat-Surat Islam dari Endeh, Penerbit Persatuan Islam Bangil, IV/1956: 1)

Adapun keterlibatan lembaga dalam usaha bisa dilihat dari keseriusan Syekh Surkati dalam mengkader murid-murid yang bukan saja memahami agama Melainkan juga pejuang. Dalam Majalah Kiblat No. 3 XXIII (1975), ada tajuk menarik yang berjudul “Lebih Setengah Abad Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyah”. Perguruan Islam Al-Irsyad didirikan Syekh Surkati pada tahun 1913. Lokasinya berpindah-pindah tempat.  Awalnya di Petamburan Jakarta, pernah juga di Lawang Maka akhirnya ke Jakarta kembali.

Dalam madrasah perihal ini, yang diajarkan bukan saja ilmu-ilmu agama, Melainkan juga ilmu awam. Sesuatu yang sekali-sekali itu masih dianggap tabu oleh Beberapa ulama. Di dalamnya, selain pemurnian tauhid, juga diajarkan kebebasan berpikit, cinta kepada saudara, bangsa serta tanah air.

Dari tangan dingin beliau, yang dibantu oleh beberapa sadara serta ulama mirip, Syekh Muhammad Noor El Anshary, Syekh Muhammad Al-‘Akib El Anshary, Syekh Muhammad El Hasyim, Sayid Muhamamd Al-Attas serta lain-lain, lahirla kader-kader terbaik dari rahim Al-Irsyad.

selaku Teladan, bukan bermaksud membatasi, di antara murid Syekh Surkati yang turut memainkan peran penting bagi bangsa serta negara ialah Prof. KH. Abdul Kahar Mudzakkir yang pernah menjadi anggota BPUPKI, anggota Konstituante; Yunus Anis, Kepala Pusroh Angkatan darat; Prof. Rasjdidi, yang turut serta berjuang dalam misi pengakuan kemerdekaan Indonesia di luar negeri; Kolonel Iskandar Idris mantan Kepala Pusrah Angkatan Darat; H. Moh. Salaeh Suady yang turut berjuang mendesak Soekarno-Hatta dalam memproklamirkan kemerdekaan; AR. Baswedan yang kemudian dikenal dengan perjuangannya melalui PAI; H. Said Hilabi aktif dalam usaha kemerdekaan serta usaha Islam di Pemalang serta lain sebagainya.

Banyak pula murid informal beliau yang yakni pemuka Islam serta sahabat erat. Di antara contohnya mirip: A. Hassan, KH. Mas Mansur, H. Fachruddin, KH. Abdul Halim, M. Natsir serta lain seabagainya yang mana peran mereka dalam usaha kemerdekaan juga cukup penting.

Sepanjang hidupnya, melalui wadah Al-Irsyad, Syekh Surkati berjuang sungguh-sungguh. Usaha tak mengkhianati hasil, atas izin Allah.

Baliau terus berjuang, tak takut bakal celaan insan serta banyak sekali fitnah. Meminjam sajak gubahan A. R. Baswedan, sang murid:

Bukankah senantiasa tuan katakan,

“Jangan langkah kau patahkan,

Oleh celaan dari khalayak,

Biarpun mereka terus menyalak

Jangan kafilah hendak berhenti,

Jangankan Kau, padahal Nabi

Utusan Allah dinista orang.”

(Abdul Rahman Baswedan Karya serta Pengabdiannya, 1989: 164)

Rahimahumullah rahmatan’ waasi’ah.*/ Mahmud B Setiawan


Editor: –

Postingan Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Teknologi

- Advertisment -spot_img

Travel

Sejarah