Jumat, Oktober 22, 2021
spot_img

Tokoh Masyumi, Sajak serta Puisi

spot_img
spot_img

Portaldata.ID | MESKI tak segala tokoh Masyumi menulis puisi, namun setidaknya jejak beberapa tokohnya dalam penulisan puisi lumayan banyak bisa diungkap. Dalam hayat usaha mereka, puisi bukan saja digunakan sebatas ekspresi estetik, namun juga digunakan dalam membela kebenaran yang mereka cita-citakan serta lain sebagainya.

Berikut perihal ini bakal dikemukakan beberapa Teladan.

Buya Moh. Natsir

Pada tanggal 13 November 1957, setelah turun dari mimbar sidang konstituante, Hamka menyisipkan sajak ke dalam saku Natsir. Di antara potongan bait terakhirnya mirip berikut:

 

Ke mana lagi Natsir, ke mana kita pergi

perihal ini berjuta kawan sefaham

Hidup serta mati bersama-sama

Untuk menuntut ridha Ilahi

serta akupun masukkan

Dalam daftarmu….

(Muhammad Natsir 70 Tahun, Kenang-kenangan Kehidupan serta usaha, 1978: 218-224)

 

Sajak itu baru dibalas Natsir pada malam hari  23 Mei 1959, yang keesokan harinya disiarkan di radio PRRI. Berikut perihal ini potongan sajak terakhirnya:

Pancangkan!

Pancangkan olehmu, wahai Bilal!

Pancangkan Panji-panji Kalimah Tauhid

walau karihal kaafirun…

Berjuta kawan sefaham, bersiap masuk

ke dalam “daftarmu”….

pada waktu pada tahun 1962, dalam momen karantina politik, Natsir dikirimi puisi oleh AR. Baswedan dengan judul “O Benih!” selaku harapan biar tumbuh benih-benih muda yang bisa menggantikan yang tua. Maka Natsir pun membalasnya dengan sajak yang tak kalah indah:

Wahai pelepah!

Dengarkan daku, wahai pelepah

Jangan kau tetap melekat jua,

mau tak pernah mati bermain angin,

Tak kau tahu, tampuk tua-mu,

Kering gersing, rintang menyempit

Si umbut hijau mengurai kelopak

Jauh sebelum itu, sewaktu di MULO Padang, Natsir juga pernah berinteraksi dengan puisi. pada waktu ada lomba deklamasi puisi, beliau turut serta serta membacakan puisi Multatuli yang berjudul “De Bandjir” serta waktu itu menjadi juara pertama. perihal ini menunjukkan bahwa kedekatan Natsir dengan sajak atau puisi telah semenjak muda, meski tak menulis buku terutamanya perihal pusi Tetapi kadang-kadang menulis puisi dalam momentum usaha.

 

Buya Hamka

Buya Hamka dikenal luas bukan saja selaku ulama, Tetapi juga sastrawan. Beberapa novelnya menunjukkan peran kesastrawanan beliau. Dalam majalah-majalah yang dipimpinnya tak jarang diberikan rubrik  perihal puisi.

Dalam buku Kenang-kenangan Hidup, beliau bercerita semenjak kecil telah banyak sajak-sajak yang dihafal di kampungnya. perihal ini menunjukkan betapa cintanya Hamka pada sajak serta puisi.

Sama mirip Natsir, meski tak menulis secara terutamanya perihal buku sajak atau puisi, Hamka pun juga menulis sajak serta puisi. Bisa dibaca dalam buku Kenangan Hidup, serta aneka macam buku Hamka yang kadang disisipkan beliau.

Berikut perihal ini salah satu Teladan puisi yang penulis dapatkan dari majalah Gema Islam (1961) dalam momentum pernikahan anaknya, beliau dengan menggunakan nama pena Abu Zaki, menulis suatu puisi, yang bait akhirnya mirip perihal ini:

Berlajarlah, berlajarlah; Kami mengantar hanja Maka perihal ini,

Pada sedjuk malam di bulan Januari…

 

Isa Anshary

Ulama yang dikenal luas selaku penentang gigih komunisme  serta dikenal selaku “Napolen Masyumi” perihal ini, di balik ketegasan serta retorika yang berapi-api, juga suka menulis puisi. Bila pembaca menulis buku “Mujahid Da’wah” atau beberapa buku anggitannya, diksi-diksi puitis kerap kali dipakai beliu.

Puisi beliau penulis temukan dari berberapa majalah. Di antaranya majalah pesan yang tersirat yang berjudul  “Kepada Anggia Murni”. Di antara potongan puisinya sebegai berikut:

Djika jasad binasa umur hingga kebatas, ruh perihal ini meninggalkan sarangnja

tinggalkan pesan kami kepada sahanat : teruskan perdjuangan kami, perlawanan perihal ini

djangan menjerah atau mengalah, itulah noda dalam sedjarah

alam fana kami tinggalkan , untuk menempuh perdjalanan djauh

dari dunia sana kami bakal tahu, achir kesudahan kehidupan perihal ini

 djalan kebaikan jang penuh duri serta derita

dibalik hidup jang pertama, kita bakal datang kesana membina hidup tak pernah mati

mempersembahkan segenap karya, kepada Ilahi Rabbi.

 

pada waktu Buya Aminudin Yunus  meninggal, dalam penutup goresan pena pada majalah pesan yang tersirat 1959, KH. Isa Anshari menulis sajak:

Istirahatlah kawan ditempat sunji

pergilah sahanat kealam baqa

dunia jang fana tuan lepaskan

pulanglah kawan tinggalkan kami

kenapa kami tak ‘kan bangga

tuan berdjasa kami lepaskan

 

Baswedan

ketimbang dengan tokoh di atas, kiprah AR. Baswedan dalam dunia persajakan serta perpuisian jauh lebih besar. Puisi serta sajak beliau banyak sekali ditemukan. Dalam buku “Abdul Rahman Baswedan, Karya serta Pengabdiannya” (1989:159-169) diterangkan bahwa beliau juga selaku penyair serta sastrawan.

Dalam menulis sajak-sajaknya beliau kerap kali menggunakan nama pena Ibnu Hani Al-Indonesia. Terinspirasi dari penyair Andalusia Ibn Hani.

Di antara sajak serta puisi yang pernah tulis, judul-dujulnya selaku berikut:

Tawakkal, Nikmat Rokhani, Antar pengajar dengan Bekas Muridnya, Digoda Sedih, Mengenang Ibu serta masih banyak yang lainnya termasuk yang dikirimkan dalam sisipan surat kepada Natsir tadi.

Berikut Teladan puisi gubahan beliau berjudul “Wanita”.

Dialah, ia tempat harapan

Pengayun bayi pembangun umat

Sadarkanlah ia bawa kedepan

Segeralah, jangan terlambat!

Dari puisi serta sajak anggitan AR. Baswedan, penggunaan puisi selain selaku  ekspresi estetik, beliau juga menggunakan puisi untuk menggambarkan rasa cintanya kepada sang istri serta digunakan pula untuk mendukung usaha serta menguatkan sahanat-sahanat seperjuangan.

Tokoh-tokoh Masyumi lain mungkin masih banyak juga yang belum diungkap di sini. KH. Wahid Hasyim misalnya, menurut cerita Gus Dur dalam buku biografi yang ditulis Greg Barton (2002: 32), semenjak kecil, karena dikarunia hafalan kuat, maka waktu gemar menghafal puisi-puisi klasik Arab. Besar barangkali ada goresan pena-goresan pena puisi beliau yang belum terlacak.

Lebih jauh dari itu, tokoh-tokoh bangsa yang juga menjadi pengajar dari beberapa tokoh tadi, rupanya juga bersajak serta berpuisi. Teladan-contohnya bisa disebutkan selaku berikut:

H.O.S. Tjikroaminoto misalnya, pada tahun 1914, untuk memperjuangkan kemerdekaan serta kesetaraan bangsa, dalam Doenia Bergerak beliau menulis sajak berikut:

Lelap terus, serta kau pun dipuji selaku bangsa terlembut di dunia

Darahmu dihisap serta dagingmu dilahap sehingga hanya kulit tersisa

Siapa pula tak memuji sapi serta kerbau?

Orang bisa menyuruhnya kerja, serta memakan dagingnya

Demikian juga Haji Agus Salim, beliau juga pernah menulis puisi. Asvi Marwan Adam dalam buku “H. Agus Salim (1884-1954) perihal Perang, Jihad, serta Pluralisme” (2004: 41) menyebut beliau selaku insan komplet. Bukan saja selaku ulama, penerjemah, wartawan serta diplomat, Tetapi juga sastrawan.

Pada tahun 1930, H. Agus Salim menulis puisi berjudul “Tanah Air Kita”. Berikut bait-baitnya:

Apa keikatan kita?

Menyebuahkan usaha

Menjadi asas utama

Pada tujuan mulia

Tujuan kita yang sama

Meninggikan derajat Indonesia

Hassan pun, tokoh pembaharu Islam Indonesia, pengajar Utama Persatuan Islam, serta pengajar M. Natsir yang dikenal tegas bahkan keras dalam berpendapat, juga menulis sajak. Bahkan, lengkap dalam satu buku yang berjudul “Sja’ir Matjam-Matjam Petundjuk serta Nashiehat” yang terbit pada tahun 1953.

Isinya ialah nasihat serta aneka macam pemikiran A. Hassan yang dibahasakan secara puitis. Berikut salah satunya sajak perihal kemerdekaan.

Medeka kita telah terdjapai

Disana sini suaranja ramai

Keadaan kita tetap terkulai

Bahagian kita djadam serta pulai

 

Apa arti kita merdeka

Djiwa kita di tangan mereka

Terus menerus mereka bersuka

Sepandjang masa kita berduka

 

Beberapa Teladan tersebutt menunjukkan bahwa banyak tokoh Masyumi yang dekat dengan dunia sastra puisi serta sajak. Bahkan itu dicontohkan pula oleh pengajar-pengajar mereka.

Mereka menggunakan sajak serta puisi bukan sekadar ekspresi estetik atau merasakan keindahan saja, atau hanya untuk romantisme, tetapi puisi serta sajak digunakan juga dalam medan usaha serta mendukung sahanat-sahanat seperjuangan mereka. Rahimahumullah rahmatan waasi’ah.*/Mahmud Budi Setiawan


Editor: –

Postingan Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Teknologi

- Advertisment -spot_img

Travel

Sejarah